Delay Gratification: Arti, Fungsi, dan Cara Melatihnya - Seni Rupa dan Sejarah

Delay Gratification: Arti, Fungsi, dan Cara Melatihnya

Share:

Delay gratification atau gratifikasi tertunda adalah kemampuan untuk menahan imbalan atau gratifikasi yang seharusnya diterima sekarang untuk mencapai sesuatu yang lebih besar nantinya. Pada 1960-an, seorang profesor dari Universitas Stanford yaitu Walter Mitchell melakukan serangkaian studi penting tentang kepuasan. (Azkia Muflikha melalui Hipwee, 2021)

Untuk penelitian tersebut, Michelle membawa ratusan anak berusia antara 4 sampai 5 tahun ke sebuah ruangan satu per satu. Di dalam ruangan tersebut Michelle meletakkan marshmallow di atas meja dan membuat kesepakatan dengan para anak-anak tersebut. Jika anak-anak tidak memakan marshmallow saat Mitchell pergi maka Michelle akan memberikan marshmallow sebagai hadiah. Seperti yang diharapkan, hanya beberapa anak yang bisa menghindari marshmallow untuk dimanakan.

Penelitian itu terus berlanjut sampai mereka memasuki masa pubertas, penelitian lebih lanjut terhadap anak-anak ini mengungkapkan fakta menarik bahwa anak-anak yang mampu menahan untuk tidak memakan marshmallow tersebut mendapat skor lebih tinggi, kurang rentan terhadap obesitas, dan memiliki keterampilan sosial yang lebih baik.

Sama seperti yang diungkapkan Lela Latifa melalui Parenting.co.id bahwa David J. Bredehoft, Ph.D., dosen psikologi keluarga Concordia University di Kanada, mengatakan penting bagi anak-anak untuk memiliki keterampilan menunda gratifikasi atau menunda kepuasan. Ini karena keterampilan ini memiliki efek jangka panjang. Anak-anak yang mampu menunda kepuasan sejak usia dini tumbuh menjadi lebih punya daya juang dan tahan stres, mampu menetapkan tujuan, dan menjadi lebih optimis. 

Pengalaman istri saya yang diceritakannya pada media sosial facebook dapat menjadi inspirasi sebagai cara melatih anak-anak untuk menerima delay gratification, mohon maaf karena bahasanya kurang formal:

Hari ini pasti istimewa bagi Aghniya. Akhirnya dia memiliki sepeda yang sangat dia impikan sejak memasuki usia 1 tahun. Dia begitu lama bersabar hanya memandangi sepeda2 yg dipajang di emperan toko dan juga melihat anak2 kompleks main sepeda yang lebih besar dari dia. Kami sampaikan secara jujur mengapa belum membelikan dia sepeda dengan bahasa yang dia pahami. Menjelaskan bahwa sepeda itu masih tinggi dan kakinya belum sampai. Jadi yang harus dia lakukan adalah rajin makan supaya cepat besar dan berdoa sama Allah supaya dikasi rejeki beli sepeda. Sementara, dia pakai motor2an karakter yang roda 4 terus didorong dengan cara duduk ngangkang sambil jalan. 

Di manapun kalau dia lihat sepeda, selalu bertanya "sepedanya siapa ini?"

Banyak jawaban mulai dr sepedanya kakak Anan, punya kakak Abqa, punya kakak Kanaya dll. Mungkin dia berharap kita jawab "Punya Aghniya". Kalau ditanya "apa mau dibelikan Aghniya?" dia konsisten jawab "Beli peda"

Akhirnya hari ini tiba, kurang lebih 1 tahun dia bersabar. Akhirnya dapat sepeda juga. Ada loncengnya dan rodanya 3 kayak lagu "kring2 ada sepeda, sepedaku roda 3".

Sampe rumah bahkan sampe malam ini dia masih kadang tanya "Sepedanya siapa ini?" untuk memastikan bahwa betul itu punya dia. 

Ah, makasih ya nak, sudah mau berproses. Entahlah, kami sebagai orang tua terlalu keras atau seperti apa tapi kami hanya bermaksud mendidik. Bahwa untuk memiliki sesuatu ada waktunya, tidak serta merta saat kita mau. Kadang juga jadi perang batin sendiri sih, benar gak ya kayak gini ke anak. Kadang kasian lihat dia yg mupeng banget tiap lihat sepeda. tapi sebentar kalau belikan dia sepeda karena kasian liat dia nangis2 dan di luar wacana yang sudah disampaikan, dia jadi belajar bahwa ternyata dengan tangis bisa mengabulkan maunya dia padahal belum waktunya. Selanjutnya, dia akan  jadikan tangis sebagai senjata untuk setiap kemauaan dia. Setiap mau sesuatu dia akan merengek dan menangis minta ini-itu tanpa mau mengerti proses. 

Semoga bermanfaat!



Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung, terus dukung kami, jangan lupa klik iklan sebagai tanda kunjungan. Mari saling menghargai.