Seni Rupa Tradisional

Share:
Batasan karya seni rupa tradisional dapat dipahami dengan mudah setelah memahami batasan istilah “seni rupa” dan istilah “tradisional”. Batasan istilah seni rupa telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa, “segala bentuk ekspresi pengalaman estetis yang dilakukan secara sadar oleh manusia melalui media titik, garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang.” Sedangkan istilah “tradisional” adalah kata sifat yang berasal dari kata dasar“tradisi” yang berarti turun-temurun dari generasi ke generasi hingga masa kini. Jadi, istilah “tradisional” berarti bersifat turun-temurun. Ada yang menjelaskan bahwa pengertian turuntemurunapabila lebih dari tiga generasi.

Bila istilah seni rupa dengan pengertian tersebut di atas dihubungkan dengan istilah tradisional (seni rupa tradisional) berarti segala bentuk ekspresi pengalaman estetis yang dilakukan secara sadar oleh manusia melalui media titik, garis, bentuk, warna, tekstur, dan ruang, yang bersifat turun-temurun dari generasi ke generasi. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa batasan tradisional pada suatu karya seni rupa melekat pada tradisi/budaya/etnis/bangsa. Dengan demikian, seni rupa tradisional bersifat lokal atau kedaerahan. Seni rupa tradisional di daerah bugis misalnya berbeda dengan seni rupa tradisional di daerah Jawa, Batak, atau Papua.

Lebih berbeda lagi dengan seni rupa tradisional di belahan dunia yang lain seperti seni rupa tradisional Cina, Jepang, Mesir, atau Jerman. Di balik perbedaannya, seni rupa tradisional memiliki ciri: (1) mengikuti aturan tertentu yang telah mentradisi; (2) memiliki bentuk/wujud yang telah mentradisi; (3) berupa benda fungsional; dan (4) tidak mementingkan nama penciptanya.
gambar disalin dari Mongabay

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung, terus dukung kami, jangan lupa klik iklan sebagai tanda kunjungan. Mari saling menghargai.