Aliran Seni Rupa (Bagian Pertama)

Share:
Istilah corak yang digunakan dalam tulisan ini memiliki makna yang dapat disamakan dengan istilah lain yang lazim digunakan orang, seperti “aliran, gaya, atau gerakan seni rupa.” Dalam perkembangan seni rupa modern dikenal berbagai macam corak disebakan oleh perbendaan konsep, prinsip, dan pandangan di kalangan seniman. Berbagai corak karya seni rupa sangat tampak terutama pada seni lukis dan seni patung. Berbagai corak yang dimaksud dikemukan pada bagian ini disertai dengan contoh karyanya.

Neoklasikisme
Aliran seni rupa yang dikenal dengan nama Neoklasikisme atau biasa pula disingkat saja dengan Klasikisme adalah corak karya seni rupa dan arsitektur yang populer pada akhir Abad ke-18 dan awal Abad ke-19.  Corak ini merefleksikan keinginan untuk menghidupkan kembali semangat dan bentuk seni rupa klasik Yunani-Romawi. Keinginan ini tidak dapat dilepaskan pada ditemukannya reruntuhan kota-kota kuno Romawi seperti Herculaneum dan Pompeii serta pengaruh buku yang ditulis oleh sejarawan seni rupa Jerman Johann Winkelmann (1717-1768) yang menegaskan bahwa perupa seyogyanya meniru cara orang Yunani dalam melukiskan bentuk2 ideal.  Tradisi peniruan terhadap alam dalam berkarya seni rupa atau yang populer dengan istilah “seni rupa mimesis” telah dilakukan oleh orang Yunani ratusan tahun sebelum Masehi.  Pada masa klasik kebudayaan Yunani, perupa (pematung) melakukan idealisasi bentuk dalam mereka meniru alam.  Karena itu karya seni rupa (baca patung manusia) yang diciptakannya memiliki anatomi yang ideal.  Pada masa kejayaan Romawi selain dihasilkan patung yang diidealisasi, juga dihasilkan patung yang menggambarkan obyeknya secara apa adanya, khususnya terhadap patung potret. Karakteristik karya seni rupa (lukisan dan patung) Neoklasikisme adalah mengangkat tema yang bersifat serius dan heroik dari karya sastra dan sejarah klasik. Dari segi penampakan, karya seni lukisan dan patung Neoklasikisme menonjolkan keindahan yang diidealisasi, harmoni, dan keseimbangan.

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/35/Jacques-Louis_David%2C_Le_Serment_des_Horaces.jpg/350px-Jacques-Louis_David%2C_Le_Serment_des_Horaces.jpg

Romantisme
Karya seni rupa bercorak romantisme lahir dengan konsep yang berupaya mengembalikan seni pada emosi yang lebih bersifat imajiner, dengan cara melukiskan kisah atau kejadian yang dramatis, melankolis, menimbulkan kerinduan ataupun peristiwa dahsyat. Tokoh perupa penganut Romantisme adalah Theodore Gericault dan Eugine Delacroix. Perupa dari Indonesia yang termasuk penganut Romantisme adalah Raden Saleh.
sumber: https://images.fineartamerica.com/images/artworkimages/mediumlarge/2/the-battle-of-taillebourg-1242-eugene-delacroix.jpg
Naturalisme
Istilah “naturalisme” dalam seni rupa memiliki dua makna, yakni: (1) makna generik yang bersifat universal karena berlaku sepanjang masa tanpa terikat oleh ruang dan waktu tertentu yakni menggambarkan atau merepresentasikan alam (termasuk orang) spersis mungkin sebagaimana yang terlihat oleh mata. Kepersisan ini bertingkat-tingkat sesuai kemampuan pelukis, pematung atau perupa lainnya dalam menggambarkan alam. Kenyataannya, tidak ada karya seni rupa naturalisme yang 100 persen persis dengan alam karena bagaimanapun juga pelukis atau pematung adalah pribadi yang subyektif yang melakukan distorsi di sana-sini untuk menghasilkan karya representasi alam yang dianggapnya ideal. Contohnya adalah karya lukisan Basuki Abdullah yang menampilkan obyek lukisan yang “lebih indah” dari pemandangan atau manusia yang dijadikannya obyek lukisan.

Karya seni lukis Neoklasikisme mengidealisasi obyek lukisannya sebagaimana yang terlihat pada lukisan David dan Ingress. Faktor kunci di sini adalah sang perupa bermaksud untuk menirukan alam dalam berkarya. Cara menirukan alam tidaklah penting. Hal yang penting adalah karya yang dihasilkan menggambarkan alam sebagaimana mata melihatnya. Upaya perupa menirukan alam telah mentradisi sejak peradaban awal manusia dan mencapai puncaknya, dalam konteks kepersisan wujud obyek yang digambarkan, pada Masa Klasik Yunani Romawi.  Upaya peniruan alam ini berlanjut terus hingga saat ini; (2) makna khusus istilah naturalisme dalam kaitannya dengan Seni Rupa Modern yang merujuk pada gerakan seni rupa di awal Abad ke-19 yang dipengaruhi oleh tulisan Emile Zola, penulis Perancis yang pertama kali memperkenalkan istilah “Naturalisme.” Untuk membedakannya dengan penggunaan istilah naturalisme yang generik, untuk istilah naturalisme dalam pengertian khusus, dituliskan “Naturalisme” (dengan awal kata huruf kapital). Dalam seni rupa, karya seni rupa yang dikelompokkan sebagai karya seni rupa Naturalisme (sebagai sebuah gerakan) dihasilkan oleh pelukis pemandangan dan potret di abad ke-19 di Eropa yang dalam melukis, ia tidak bekerja di studio tetapi terjun langsung mengamati obyek yang dilukisnya.

Karakteristik dari lukisan Naturalisme yang dihasilkan oleh pelukis kelompok ini dihasilkan berdasarkan obyek yang sesungguhnya (bukan artifisial) melalui pengamatan langsung. Apa yang dilakukan oleh para pelukis ini tidak lepas dari pengaruh metode ilmiah yang dipraktikkan oleh para ilmuwan dalam memahami gejala alam melalui metode pengamatan (observasi). Pelukis Abad ke-19 yang dianggap menonjol sebagai pelukis Naturalisme antara lain: Jules Bastien-Lepage, Jean-Francois Raffaelli, dan John Constable. 

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/15/John_Constable_-_Wivenhoe_Park%2C_Essex_-_Google_Art_Project.jpg
sumber: https://images.fineartamerica.com/images-medium-large-5/boulevard-in-paris-jean-francois-raffaelli.jpg
Realisme
Realisme, yaitu corak karya yang dihasilkan oleh penganut aliran Realisme yang memandang dunia sebagai sesuatu yang nyata (tanpa ilusi). Penganut aliran ini ingin menciptakan hasil seni yang nyata dan menggambarkan sesuatu yang benar-benar ada dan kasat mata. Mereka berupaya menemukan dunia melalui penghayatannya terhadap kenyataan. Seorang pelukis perancis penganut aliran ini, Courbert berungkap bahwa, “Tunjukkalah malaikat padaku dan aku akan melukisnya”.

Ungkapan itu bermakna bahwa ia tidak akan melukiskan sesuatu bila sesuatu itu tidak nyata. Oleh karena itu aliran atau gaya Realisme tidak menampilkan sesuatu jika tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, bila dijejaki karya-karya dari tokoh utamanya, tampak bahwa Realisme cenderung melukiskan kenyataan yang menggambarkan sisi getir dari kehidupan manusia dengan maksud menggugah kesadaran, sehingga biasa dimaknai sebagai bentuk perjuangan moral. Tokoh yang dikenal beraliran atau bergaya Realisme adalah Gustave Courbert, Honore Daumier, dan Sudjojono dari Indonesia.

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/93/Gustave_Courbet_018.jpg
sumber: wikipedia
Impresionisme
Impresionisme, yaitu corak karya khususnya dalam seni lukis,  yang mengutamakan penangkapan kesan cahaya matahari yang menimpa obyek yang dilukis. Pengutamaan penangkapan kesan cahaya matahari ini tidak dapat dilepaskan dari cara pelukis yang melahirkan corak impresionisme ini dalam melukis.  Mereka melukis di alam terbuka secara langsung dan karena kesan cahaya matahari yang menimpa obyek yang dilukis berubah-ubah mengikuti pergerakan matahari, maka mereka melukis secara cepat yang melahirkan goresan spontan untuk menangkap kesan cahaya pada obyek.  Tokoh pelukis Impresionisme antara lain  Claude Monet, Pierre Aguste Renoir, Manet. Dari Indonesia khsususnya Sulawesi Selatan adalah Abd. Kahar Wahid.

sumber: wikimedia
Neo-impresionisme
Kaum Impresionisme pada dasarnya menggunakan warna di atas kanvas secara tidak bercampur dengan harapan warna-warna tersebut akan kelihatan bercampur bila dipandang dari jauh.  Pelukis Neo-Impresionisme menerapkan cara di atas secara lebih intensif dengan menggunakan titik-titik warna yang kecil.  Karena itu corak karya yang dihasilkannya dikenal pula dengan istilah “pointilis.” Pelukis Neo-Impresionis yang paling menonjol adalah Georges Seurat.

sumber: https://cdn.britannica.com/41/24341-050-DC561751/canvas-oil-La-Grande-Jatte-Georges-Seurat-1884.jpg

--Dari draft Pengetahuan Dasar Seni Rupa