Aliran Seni Rupa (Bagian Ketiga)

Share:
Beberapa pembahasan bagian aliran seni rupa telah kita ketahui, bagi anda yang belum mebaca silakan membuka link di bawah ini.

Aliran seni rupa bagian pertama
Aliran seni rupa bagian kedua

Telah sampailah kita pada bagian pembahasan aliran seni rupa bagian ketiga. Dari hasil pembahasan aliran seni rupa pada halaman sebelumnya, kita menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perjalanan seni rupa. Berikut lanjutan pembahasan kita tentang aliran seni rupa.

Pop Art
Pop Art, yaitu aliran yang memanfaatkan simbol-simbol dan gaya visual yang berasal dari media massa yang populer seperti koran, tv, majalah, dll. untuk menampilkan hal-hal yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Pop Art memberikan kesan adanya sentuhan desain grafis dalam seni lukis. Tokoh Pop Art antara lain  Jasper Johns dan Andy Warhol.
sumber: artsmelange
OP Art (Optical Art)
Optical Art merupakan karya seni rupa yang memanfaatkan ilusi mata. Perupa Op Art tertarik menggambarkan efek optik untuk menciptakan sensasi visual. Permainan bentuk dan garis yang dibuat sedemikian rupa menimbulkan efek gerak.
sumber: wikimedia
sumber: wikimedia
Minimal Art
Minimal art atau seni minimal merupakan karya seni rupa yang menolak gagasan bahwa seni harus mencerminkan ekspresi pribadi penciptanya. Tokoh aliran ini berpandangan bahwa seni tidak harus mengacu pada apa pun selain dirinya (seni itu sendiri). Berdasarkan pandangan itu perupa Minimal Art cenderung mengurangi bentuk artistik atas dasar pertimbangan logika dan kesederhanaan. Mereka bertujuan untuk membuat karya yang benar-benar objektif, tidak ekspresif dan non-referensia. Aliran ini muncul sebagai tren di akhir tahun 1950-an dan terutama berkembang di tahun 1960-an dan 1970-an.

Gaya minimalis akhirnya mewakili gaya hidup zaman modern yang praktis, ringkas, efektif, dan efisien. Tokoh-tokohnya yang terkenal adalah Donald Judd, Robert Moris, Ronald Bladen, Robert Grosvenor, Carl Andre, Robert Smithson, Fred Sandback, Sol LeWitt, dan Larry Bell.
sumber: wikimedia
sumber: icamiami
Seni Rupa Feminisme
Seni Rupa Feminisme (feminist art) merupakan gerakan seni rupa di era 1960-1970an untuk memperjuangkan kesetaraan jender.  Bagi mereka, dalam bidang seni rupa wanita tidak mendapatkan tempat yang sejajar dengan laki-laki.  Linda Nochlis, seorang tokoh feminisme berargumen bahwa mengapa tidak ada perupa wanita dalam sejarah seni rupa masa lalu yang sekaliber Michaelangelo atau Leonardo da Vinci bukanlah karena wanita kodrat wanita dengan segala karakteristiknya (hormon, menstruasi), tetapi karena kondisi masyarakat yang tidak kondusif yang tercermin pada lembaga dan pendidikan.

Yudy Chicago, seorang tokoh seni rupa feminisme, menegaskan bahwa Seni Rupa Feminisme mengafirmasi dan memvalidasi pengalaman wanita yang membuat kaum wanita merasa bangga dan nyaman dengan keadaannya. Menurut Yudy Chicago, budaya yang tidak menyetarakan gender bersifat merusak.
sumber: pinimg/pinterest
Seni Rupa Konseptual
Istilah Seni Rupa Konseptual diperkenalkan oleh Henry Flynt dari kelompok Fluxus pada tahun 1961 tetapi istilah ini barulah pada akhir 1960an menjadi populer. Tokoh gerakan ini antara lain Joseph Kosuth, Joseph Beuys, Sol Lewitt, dan Jacek Tylicki.

Seni Rupa Konseptual atau sering pula disebut “Konseptualisme” adalah gerakan seni rupa yang menempatkan ide atau konsep dalam berkarya sebagai hal yang paling penting mengalahkan aspek estetik, teknik, dan bahan.  Bagi mereka, ide atau konsep itu sendiri adalah seni. Karena ide atau konsep biasanya dirumuskan dalam bentuk kata-kata (tulisan), maka karya seni rupa konseptual seringkali ditampilkan dalam bentuk tulisan.
sumber: wikimedia
Neo-Ekspresionisme
Neo ekspresionisme merupakan gerakan seni rupa dipenghujung 1970an dan awal 1980an yang lahir sebagai reaksi terhadap minimalisme dan seni rupa kontekstual.  Gerakan yang bersifat internasional ini merevitalisasi corak lukisan dengan warna-warna keras, ekspresif, bertekstur, dan dengan subject matter figuratif yang mengingatkan kita akan karya fauvisme dan ekspresionisme Jerman.

Sebagai sebuah gerakan internasional, Neo ekspresionisme dikenal dengan berbagai nama lokal antara lain di Jerman bernama Neue Wilden (fauvis baru); Di Italia disebut Trans-avantgarde; di Perancis dikenal dengan Figuration Libre (figurasi bebas), dan di Amerika Serikat dengan Energism dan New image painting.  Tokoh gerakan ini antara lain Anselm Kiefer dan Julian Scnabel.
sumber: wikimedia
Fotorealisme
Istilah Fotorealisme pertama kali diperkenalkan oleh Louis K Meisel pada tahun 1969. Istilah ini muncul dalam sebuah katalog pameran di Museum Whitney pada tahun 1970.  Istilah ini kadangkala pula disebut Superrealisme atau Realisme Baru. Fotorealisme mengacu pada karya seni rupa (khususnya lukisan) yang diciptakan dengan pertama kali mempelajari foto secara matang lalu mereproduksi foto tersebut serealistis mungkin dengan menggunakan media lain (misalnya cat minyak atau akrilik) pada kanvas.

Fotorealisme dapat dipandang sebagai reaksi terhadap abstrak ekspresionisme atau minimalisme yang kesannya seolah-olah tidak serius. Menarik untuk dicatat, bahwa meskipun pelukis Fotorealisme menunjukkan keterampilan tinggi dalam menghadirkan lukisan realistis, beberapa kritikus pada masa awal perkembangannya mengeritiknya sebagai karya tipuan karena hanya memindahkan karya foto ke atas kanvas.   Perupa yang termasuk pendukung Fotorealisme antara lain John Baeder, Richard Estes, Ralph Goings, Chuck Close, Charles Bell.
sumber: wikimedia
sumber: artnet
Hiperrealisme
Istilah Hiperrealisme mula pertama diperkenalkan oleh seorang agen seni rupa (art dealer) dari Belgia bernama Isy Brachot menggunakan “L’hperrealisme” sebagai judul pameran di galerinya di Brussel yang menampilkan perupa fotorealisme Amerika Seperti Ralph Going dan Chuck Close.  pada tahun 1973.  Hiperrealisme yang bertolak dari Fotorealisme berkembang pesat pata tahun 2000an sejalan dengan kemajuan teknologi digital. Perbedaan antara Fotorealisme dengan Hiperrealisme adalah pada sikap batin dalam berkarya.

Pelukis Fotorealisme berupaya semaksimal mungkin menirukan foto yang dijadikannya dasar dalam melukis.  Sebaliknya, pelukis Hiperealisme hanya menggunakan foto sebagai referensi belaka untuk menciptakan karya yang dari segi penampakan juga sangat realistis tetapi dengan melibatkan subyektifitas dirinya. Subyektifitas perupa menampak pada dimanfaatkannya tema emosional, sosial, politik, dan budaya dalam karya yang diciptakannya.  Jika pelukis Fotorealisme menghasilkan karya realistis sebagaimana adanya, perupa Hiperrealisme melahirkan realitas baru (simulated reality) yang tidak persis sama dengan foto yang dijadikan referensi. Kadangkala karya Hiperrealisme sangat provokatif. Karena itu tidak mengherankan jika ada yang mengatakan bahwa karya hiperrealisme adalah “karya yang sangat realistis tetapi tidak realis.”

Hiperrealisme juga berkembang dalam seni patung dan bahkan karya-karya patung Hiperrelisme dalam berbagai tema menimbulkan ketakjuban penikmat karena pembuatannya yang sangat mendetail, realistis, dan menggugah emosi penikmat.  Perupa Hiperrealisme memang memberi perhatian yang amat besar pada detail dari obyek yang digambarkannya. Demi mencapai detail yang sempurna, perupa Hiperrealisme ikhlas menghabiskan waktunya untuk itu. Perupa Hiperrealisme yang menonjol antara lain Duane Hanson (Amerika Serikat), Ron Mueck (Australia) dan Tjalf Sparnaay (Belanda).
sumber: wikimedia
sumber: artsy
Demikianlah uraian singkat tentang corak karya seni rupa yang tentu saja tidak semua corak seni rupa tercakupi.  Corak karya seni rupa sebagaimana yang diuraikan di muka menunjukkan bahwa corak karya seni rupa pada dasarnya merupakan refleksi dari cara perupa mewujudkan subject-matter dari karyanya dengan menggunakan bahan dan teknik tertentu, dan bagaimana sang perupa mengekspresikan visi artistiknya.  Visi artistik ini amatlah penting karena merupakan cerminan dari pandangan filosofisnya sebagai seorang seniman.  

Seorang perupa tentu tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan tempat ia berada. Karena itu, tidak mengherankan jika pada masa tertentu seorang perupa menghasilkan karya yang  memiliki corak yang sama dengan karya yang dihasilkan perupa lainnya. Kesamaan ini semakin nyata jika para perupa terlibat dalam suatu gerakan artistik.  Konsep gerakan artistik dalam seni rupa biasanya dikaitkan dengan masa dan tempat tertentu.  Misalnya gerakan Impresionisme di Eropa pada Abad ke-19 yang melahirkan corak lukisan dengan goresan spontan, berwarna cerah, dan tidak peduli pada detail. Pada saat ini mungkin saja ada perupa yang melukis dengan corak Impresionisme tetapi sang pelukis ini tentu tidak lagi dapat dikaitkan dengan gerakan Impresionisme.


Selain dimilikinya kesamaan karakteristik dari suatu Corak karya seni rupa,  terdapat pula karakter khusus dari setiap perupa dalam mengekspresikan diri melalui corak tersebut. Lebih jauh, seorang perupa  karena dinamika pribadinya, kadangkala  tidak hanya membatasi dirinya pada satu corak karya seni rupa tertentu tetapi berkiprah dalam beberapa corak seni rupa. 

--Dari Draft Pengetahuan Dasar Seni Rupa