Aliran Seni Rupa (Bagian Kedua)

Share:
Pada bagian kedua ini akan ditambahkan aliran-aliran dalam seni rupa. Mari kita simak aliran atau corak seni rupa selanjutnya.

Ekpresionisme
Ekpresionisme merupakan corak karya seni rupa yang diciptakan berdasarkan konsep bahwa seni rupa itu adalah “jiwa yang tampak “ dari penciptanya. Bagi perupa yang menganut pandangan ini,  perasaan estetik tidak hanya berdasarkan indera penglihatan, namun juga berdasarkan pengalaman batin. Mereka melukiskan objek yang mengesankan dengan perasaan menggejolak dari sudut pandang yang subyektif. Lahirlah karya-karya yang menggugah emosi atau ide. Istilah ekspresionisme sesungguhnya dipersoalkan oleh pengamat oleh karena bagaimanapun juga setiap karya seni rupa merupakan “ekspresi” dari penciptanya.    Sebagai sebuah gerakan, Ekspresionisme mengacu pada karya-karya yang diciptakan di awal Abad ke-20 yang bercirikan goresan yang spontan, bergelora, sebagaimana terlihat pada karya Vincent van Gogh, atau Edward Munch yang memang merupakan tokoh Ekspresionisme. Tokoh ekspresionisme di Indonesia antara lain Affandi, S. Sudjojono, dan Kartika (putri Affandi).

sumber: wikimedia
Fauvisme
Sebuah peristiwa seni rupa yang penting pada awal abad ke-20 berlangsung pada tahun 1905 ketika kelompok pelukis yang dipimpin oleh Henri Matisse  memamerkan karya yang tidak berusaha melukiskan obyek sebagaimana yang ditangkap oleh mata.  Ilmu perspektif tidak digunakan, kanvas hanya diisi dengan bidang-bidang secara dekoratif dengan warna yang bebas dan spontan sebagaimana halnya dengan lukisan anak-anak.  Seorang kritikus menyebut pelukis kelompok in sebagai fauvis yang berarti “binatang liar.” Istilah ini kemudian menjadi nama kebanggaan kelompok ini.  Sumber inspirasi dari kaum fauvis  adalah Vincent van Gogh dan Paul Gauguin. Karena itu, Faufisme dikelompokkan sebagai bagian dari Ekspresionisme. Tokoh fauvisme adalah Henri Matisse, Georges Rouault, Andre Derain, dan Raoul Dufy.

sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/0/07/Matisse-Luxe.jpg/1200px-Matisse-Luxe.jpg
sumber: wikimedia
Kubisme
Pandangan yang dilontarkan oleh paul Cezanne tentang obyek lukisan yang dapat dikembalikan ke bentuk-bentuk dasar seperti silinder, kerucut, bola, menjadi cikal-bikal lahirnya Kubisme.  Kubisme pertama kali diformulasikan pada sekitar 1908 oleh Pablo Picasso dan Braque.  Kubisme, merupakan corak karya seni rupa yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam berbagai bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Karya bercorak Kubisme menampilkan objek terkesan dipecah-pecah, dianalisis, dan diatur kembali sehingga objek tersebut seolah-olah tampak dari berbagai sudut pandang untuk menjelaskan objek yang digambarkan dalam konteks yang lebih besar. Permukaan yang digambarkan kadangkala bersilangan dalam sudut acak sehingga mengaburkan kedalaman. Latar dan objek terkesan saling menembus untuk membentuk ruang membingungkan yang menjadi salah satu karakteristik khusus dari Kubisme.

Kubisme pertama kali diformulasikan pada sekitar 1908 oleh Pablo Picasso dan Braque. Periode pertama dari Kubisme berupa Kubisme Analitis yang dicapai dengan menyederhanakan obyek-obyek ke dalam bentuk geometris dasar sementara melihat obyek-obyek tersebut dari berbagai sisi secara bersamaan.  Perupa Kubisme bekerja secara berhati-hati dan penuh perhitungan. Atas dasar ini dapatlah dikatakan bahwa Kubisme berseberangan dengan fauvisme yang mengutamakan goresan bebas yang spontan. Periode kedua dari Kubisme berupa Kubisme Sintetis yang diperoleh melaui rekonstruksi imajinatif (menyusun kembali secara bebas)dari obyek-obyek alam. Biasanya dengan menggunakan teknik kolase.

sumber: https://uploads1.wikiart.org/images/pablo-picasso/the-girls-of-avignon-1907.jpg
Primitivisme
Didorong oleh keinginan untuk mendapatkan ide baru dan segar, beberapa orang perupa Eropa di penghujung Abad ke-19 dan awal Abad ke-20 mencari inspirasi pada budaya luar Eropa yang pada saat itu dipandang sebagai budaya primitif seperti budaya dari masyarakat yang hidup di Afrika, Australia, dan Oceania. Lahirlah karya-karya yang kemudian dikenal sebagai karya bercorak primitivisme yang inspirasinya dari budaya primitif. Ciri karya primitivisme antara lain bersifat naif sebagaimana yang terlihat pada masyarakat atau karya seni rupa primitif (folk-art).

Perupa yang dipandang menghasilkan karya primitivisme antara lain Gauguin, Pablo Picasso, Brancusi, dan Paul Klee. Seorang pelukis otodidak Perancis yang karyanya digolongkan sebagai pelukis Primitivisme adalah Henri Rousseau dengan karyanya yang berjudul “Mimpi”.  Di Indonesia, corak karya seperti yang dihasilkan oleh Henri Rousseau kadangkala disebut sebagai corak “dekorativisme” yang ditandai pada upaya penggayaan bentuk dari pelukisnya.
sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/fe/Henri_Rousseau_Femme_se_promenant.jpg
Dadaisme
Dadaisme atau biasa pula disebut Dada, merupakan karya seni rupa yang lahir sebagai reaksi protes terhadap kekekerasan dan kekacauan akibat perang dunia I. Nama Dada sendiri konon ditemukan dengan cara mencari kata secara acak pada kamus dan ditemukanlah kata “dada” yang dalam Bahasa Perancis bermakna “kuda-goyang.”  Perupa dari kelompok Dadaisme berpandangan bahwa buat apa ada peraturan (misalnya hukum internasional) bila tidak mampu mencegah peperangan. Begitulah logika mereka sehingga kaum Dada mengemukakan teori  bahwa apabila dunia ini selama tiga ribu tahun tidak bisa merencanakan perkembangannya, adalah juga tidak mungkin bagi seorang seniman untuk berpura-pura menemukan keteraturan dan sesuatu pengertian dalam kekacauan ini. 

Pandangan mereka seperti itu direfleksikan dalam karya-karyanya yang mencerminkan sinisme seperti reproduksi lukisan Monalisa yang dibubuhi kumis serta karya “ready mades”-nya Duchamp seperti roda sepeda, pengering botol, dan tempat kencing, yang diangkat dari tempat sampah kemudian diletakkan di atas alas-alas patung atau dimasukkan ke dalam kurungan kaca. Tokoh perupa Dadaisme di antaranya Marcel Duchamp, Raoul Haoussmann, dan Hans Arp.
sumber: wikiart
sumber: wikimedia
Surealisme
Istilah “Surealisme” diperkenalkan pertama kalinya oleh Guillaume Apollinare pada tahun 1917 tiga tahun sebelum munculnya gerakan Surealisme yang berpusat di Paris. Surealisme  merupakan gerakan dalam dunia sastra, film,  dan seni rupa. Dalam seni rupa karya Surealisme menampilkan lukisan dengan objek yang memberi kesan aneh bagaikan alam mimpi.

Surealisme dikaitkan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud yang menyatakan bahwa alam pikiran manusia terdiri atas alam-sadar dan bawah-sadar. Karya seni rupa yang bercorak Surealisme menggambarkan alam pikiran manusia seperti tidak dalam kontrol kesadaran atau keadaan alam bawah sadar. Tokohnya yang terkenal adalah Salvador Dali, Joan Miro, Marc Chagall. Perupa Surealisme di Indonesia yang terkenal adalah Ivan Sagita.
sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/dd/The_Persistence_of_Memory.jpg
sumber: harkeyahh
Abstraksionisme
Abstraksionisme, yaitu aliran yang berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasi figuratif suatu objek. Ciri utama karya seni rupa corak ini adalah wujud yang digambarkan terbebas dari ilusi atas bentuk alam, dengan kata lain tidak berhubungan dengan bentuk apa pun yang pernah kita lihat (non figuratif), meskipun bila diamati terkadang terkesan menyerupai sesuatu. Termasuk dalam payung Abstraksionisme antara lain Suprematisme, Neo-Plastisisme (De Stijl), Futurisme, Konstruktivisme, Abstrak-Ekspresionisme, Seni Rupa Kongkrit.
sumber: wikimedia
Suprematisme
Suprematisme diproklamasikan oleh pelukis Rusia, Kazimir Malevisch pada tahun 1915 meskipun karyanya telah tampil pada tahun1913.  Suprematisme menampilkan bentuk-bentuk geometris murni seperti persegi empat panjang, bujur sangkar, dan sebagainya dengan warna yang terbatas. Istilah suprematisme bermakna “supremasi (keunggulan) perasaan artistik murni terhadap penggambaran visual dari obyek”.

Bagi pendukung Suprematisme, fenomena visual dari dunia objektif adalah tanpa makna karena yang paling penting adalah perasaan. Malevisch menuliskan bahwa seni rupa “tidak lagi peduli untuk keperluan negara atau agama; tidak lagi untuk mengilustrasikan sesuatu, tidak perlu lagi melakukan apa-apa bagi sebuah objek. Seni rupa hadir untuk dirinya sendiri.”
sumber: wikimedia
Neo-Plastisisme (De Strijl)
Neo-Plastisisme dengan tokoh utamanya seorang pelukis Belanda Piet Mondrian berpandangan bahwa garis dan warna harus dibebaskan dari peniruan alam.  Warna adalah warna dan jangan digunakan untuk melukiskan hal lain misalnya warna hijau untuk melukiskan daun, warna biru untuk melukiskan gunung atau langit.  Lukisan menempati bidang datar dan oleh karena itu jangan menciptakan ilusi kedalaman pada kanvas.  Penyederhanaan bentuk menurut pandangan ini adalah untuk mengejar keuniversalan.
sumber: wikimedia
Futurisme
Futurisme diperkenalkan untuk pertama kalinya di Italia pada tanggal 20 Februari 1909 dalam bentuk manifesto yang ditulis oleh penyair Italia Filippo Tomasso Marinetti.  Dalam manifesto tersebut tercermin tekad untuk membuang cara berkarya seni rupa masa lalu.  Karena itulah museum yang menyimpan karya seni rupa masa lalu harus dirobohkan. Selanjutnya pendukung gerakan artistik ini harus menampilkan inovasi budaya dan masyarakat.  Futurisme menurut Marinetti perlu menampilkan dinamisme, kecepatan, kekuatan mesin, dan vitalitas kehidupan modern.  Marinetti berharap perupa terlibat secara emosional dalam dinamika kehidupan modern dan dalam karyanya tergambar secara visual persepsi tentang gerak, kecepatan, dan perubahan. Untuk itu perupa Futurisme, khususnya pelukis dan pematung, menggunakan teknik yang dipakai oleh perupa kubisme yakni bidang-bidang terpisah dan saling berpotongan serta garis-garis yang dinamik.

Perbedaan yang terlihat antara karya kubisme adalah dalam pemilihan obyek.  Jika perupa Kubisme menyenangi menggambarkan alam benda (still life), perupa Futurisme memilih obyek yang bergerak seperti mobil, kereta api, pesepeda, penari, binatang, dan kerumunan orang. 

Selama dekade kedua Abad ke-20 gerakan ini meluas di seluruh Eropa.  Tokoh Futurisme antara lain Umberto Boccioni, Ciacomo Balla, dan Marchel Duchamp.
sumber: wikimedia
sumber: wikimedia
Konstruktivisme
Konstructivisme diformulasikan pertama kali oleh Vladimri Tatlin, seorang perupa Rusia.  Corak ini mengombinasikan antara dinamika Futurisme dengan kegeometrisan Kubisme dalam wujud karya tiga-dimensional yang abstrak.  Konstructivisme memang berorientasi pada seni rupa terapan dengan fungsi sosial (arsitektur dan desain) dari menolak orientasi “seni untuk seni.”  Konstructivisme memandang penting struktur tiga-dimensional karena implikasi desain dan fungsinya. Konstructivisme berjaya di Rusia pada dekade 1920an tetapi kemudian oleh Pemerintah Uni Soviet dianggap tidak sesuai dengan negara komunis dan karena itu tidak diberi tempat. Hal ini disebabkan oleh karena digunakannya gerakan ini untuk kegiatan kritik sosial.

Di luar Uni Soviet, Konstruktivisme mendapat tempat di Jerman dan memberi pengaruh yang kuat terhadap Bauhaus. Bauhaus adalah lembaga pendidikan seni rupa dan desain yang aktif antara tahun 1919-1933 yang memang tujuannya sejalan dengan Konstruktivisme yakni untuk mengombinasikan desain, seni rupa, dan industri demi dihasilkannya karya yang estetik dan sekaligus bermanfaat. Selain di Jerman, Konstruktivisme juga populer di Inggeris, Perancis , dan Amerika Serikat. Perupa yang termasuk pendukung Konstruktivisme antara lain Naum Gabo, Antoine Pevsner, dan El Lissitzky.
sumber: wikimedia
Abstrak Ekspresionisme
Dengan terjadinya Perang Dunia II, banyak seniman Eropah lari ke Amerika-Serikat. Tentu saja mereka membawa konsep-konsep seni rupa yang sedang ngetrend di Eropah yang akan berdampak terhadap perkembangan seni rupa di Amerika Serikat.  Di New York, dibawah kepemimpinan Jackson Pollock, Franz Kline, dan Willem de Kooning, abstrak-ekspresionisme lahir. Abstrak-Ekspresionisme merupakan penggabungan antara ekspresionisme dan abstarksionisme.

Pada abstrak-ekspresionisme, pelukis menyatakan bentuk-bentuk abstrak dalam lukisannya secara spontan, serta-merta dan eksplosif (meledak-ledak). Bagi pelukis Abstrak-ekspresionisme, kegiatan melukis itu amat penting. Karena itu, Abstrak-Ekspresionisme biasa pula disebut “action painting.”Tokoh Abstrak-Ekspresionisme adalah Jackson Pollock, Franz Kline, dan Willem de Kooning.
sumber: wikimedia
Seni Rupa Kongkrit
Istilah “Seni Rupa Kongkrit” pertama kali doformulasikan oleh Theo van Doesburg yang digunakannya pada tahun 1930an untuk membedakan karyanya dengan karya abstrak lainnya pada masa itu.  Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Max Bill pada dekade 1940an.  Seni Kongkrit memberi tekanan pada abstrak geometris.  Mereka menolak karya seni rupa dengan subject matter yang bersifat simbolistis atau mendramatisasi.  Karena itu pada karya seni rupa kongkrit tidak ditemukan figur manusia, yang ada hanya bidang, warna, dan volume.

Gerakan Seni Rupa Kongkrit berakhir pada 1950an. Meski demikian, gagasannya hidup kembali dalam berbagai gerakan seni rupa yang datang kemudian.
sumber: wikimedia

--dikutp dari buku pengetahuan dasar seni rupa