Seni itu Mubazir

Share:
Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah seorang filsuf idealis Jerman yang lahir di Stuttgart, Württemberg, kini di Jerman barat daya. Pengaruhnya sangat luas terhadap para penulis dari berbagai posisi, termasuk para pengagumnya, dan mereka yang menentangnya. --Wikipedia.

Hegel mengajukan dua pernyataan tentang seni di masa lalu:
  • Jika seni mengandung pesan serius, maka seni menjadi mubazir karena pesan itu bisa disampaikan secara lebih jelas lewat agama atau filsafat
  • Jika seni hanya permainan formal-artistik, dengan kata lain hiburan tanpa pesan serius, maka seni juga mubazir, karena ada cara lain yang lebih efektif untuk menghibur diri selain kesenian.
Pertanyaannya, apakah seni akan mati setelah Hegel mengungkapkan itu? Ternyata tidak, seni tetap berlanjut sampai sekarang.

Menurut Hegel, pasca tahun 1831 tidak ada lagi sesuatu yang baru dalam sejarah seni. Selepas tahun 1831, yang dikenal sebagai era romantik, seni terbentur pada dua perkara: menjadi filsafat kelas-dua atau menjadi hiburan rumit yang bertele-tele.

Jadi pasca tahun 1831, semua kegiatan kesenian yang ada adalah "kemubaziran seni" kata Hegel. Seni modern itu mubazir, seni kontemporer itu mubazir, seni posmodern itu mubazir, atau apalah nanti istilah yang lahir setelah posmodern.

Selepas Hegel meninggal di tahun yang sama (1831), seni tetap dinikmati oleh banyak kalangan dengan kemubaziran yang diungkapkan Hegel.


Dunia tetap berprinsip bahwa seni tetap dibutuhkan. Berbagai terobosan pemikiran tentang seni tetap berlanjut. Bahkan seni tradisi juga ikut ambil bagian dalam dunia yang modern.

Seni tetap berlanjut. Namun Hegel menyadarkan kita bahwa seni memosisikan diri sebagai ilmu, bukan omong kosong tanpa makna.