Seni Rupa Barat (Prasejarah I)

Share:
Banyak pakar mengatakan prasejarah artinya belum mengenal tulisan. Terkhusus pada yang saya bahas, prasejarah yang dimaksud yaitu belum mengenal tulisan di tempat itu. Karena setiap tempat berbeda-beda akhir prasejarahnya. Tidak bisa kita sapu bersih prasejarah itu sama zamannya.




Eropa, prasejarahnya berlangsung lama, 30.000 - 1000 SM. Mesopotamia yang menjadi cikal bakal Timur Tengah dan sekitarnya sudah berakhir sejak 5000 SM. Mesir berakhir 4000 SM. Indonesia, nantilah berakhir 5 M pada saat ditemukan prasasti tulisan di Kutai Kartanegara, Kalimantan. Angka-angka di atas tidak pasti benar, hanya tebakan pakar berdasarkan hasil kajian yang mendalam. Begitupula setelah ditemukannya alat pendektesi radioaktif seperti termoluminisens. Pakar makin berani membuat angka-angka itu.

Saya pikir kita semua tahu. Menyimak cerita-cerita guru SD dahulu. 30.000 SM masyarakat prasejarah hidup di gua. Mengapa di gua? karena gua tempat yang aman untuk tidur, menyimpan makanan, dan suhu udara berbeda di luar gua. Masa ini, dingin sangat ekstrim. Membekukan banyak hal. Kecuali membekukan perasaan.



Tahun 8000 SM. Es mulai mencair. Pulau-pulau besar mulai terbentuk. Masyarakat prasejarah mulai keluar gua. Mereka hidup berpindah untuk mendapatkan lebih banyak makanan. Muncullah lukisan-lukisan seperti di pembukaan tulisan ini.

7000 tahun kemudian (1000 SM). Mereka mulai beternak, bertani dan menetap lagi. Mereka mulai memercayai sesuatu yang magis (animisme-dinamisme). Itulah sebabnya banyak ditemukan monumen batu sbg bahan kepercayaan mereka. Menhir. Dolmen. Cromlech.

Sebelum berburu. Mereka membuat ritual. Caranya, mereka melukis binatang tersebut di dinding-dinding gua. Dibuat semirip mungkin dengan binatangnya.

Lukisan selesai. Ritual dimulai. Mereka mengambil tombak. Ditusuk-tusuklah lukisan binatang tadi. Harapan mereka, membuatnya semirip mungkin dgn binatang aslinya kemudian menusuk lukisannya, sama dengan kenyataan di lapangan ketika berburu nantinya. Itulah sebabnya lukisan mereka mirip-mirip dengan aslinya.




Sebaliknya, kalau mereka melukis manusia malah hanya digambarkan sbg tongkat-tongkat berjalan. Harapan mereka agar tidak terkena ritual.