Dua Pucuk Surat dari Sang Nabi

Share:
Ketika Sang Nabi hendak mendakwahi Raja Persia dan Raja Romawi Timur. Beliau mengirimkan utusan pembawa surat masing-masing ke dua penguasa di zaman itu. Romawi telah berkuasa sekitar 600an tahun, Persia berkuasa sekitar 1000an tahun. Kekuasaan Sang Nabi barulah beberapa tahun.

Begitu surat dikirim. Ada balasan dari ke dua penguasa itu. Balasannya jauh berbeda. Balasan dari Raja Romawi Timur sangat positif. Bahkan mencoba mencari tahu siapa gerangan Sang Nabi yang tidak diketahuinya itu. Begitu Raja mendapat kabar dari banyak orang, Raja mengakui bahwa itu Sang Nabi. Tapi begitulah, Raja berkata, "Kalau bukan krn kerajaanku ini (Konstantinopel), saya akan ke Madinah menemui nabi yg dimaksud untuk saya cuci kakinya"

Raja Romawi tidak ke sana. Tapi menitipkan hadiah kepada Sang Nabi. Ditulis pula surat balasan yg bagus untuknya.

Peristiwa di Persia terjadi sebaliknya. Raja Persia membuka surat. Membaca tulisan yang cukup panjang dengan pembuka: Dari Muhammad Rosulullah untuk Raja Persia. Angkuh Sang Raja berbicara di depan surat, "siapa orang ini? Berani meletakkan namanya lebih dahulu sebelum namaku dalam suratnya". Surat Sang Nabi dirobek-robeknya dengan kemarahan terang-terangan.

Kembalilah dua utusan tadi kpd Sang Nabi. Utusan untuk Romawi sampaikan kabar gembira dan hadiah. Utusan untuk Persia sampaikan kabar surat Sang Nabi dirobek Sang Raja.

Sang Nabi menjawab untuk Persia: semoga Allah merobek-robek kerajaannya. Sang Nabi menjawab untuk Romawi: semoga Allah abadikan kerajaannya.

12 tahun kemudian peradaban Persia runtuh beserta kerajaannya. 800an tahun kemudian, Konstantinopel hancur namun bangunan kerajaan Romawi Timur itu dijadikan Masjid. Nama bangunan itu adalah Hagia Sophia.