Didik Karakter Pendidik Kita

Share:
Persoalan karakter di dunia pendidikan kita menjadi pekerjaan kurikulum 15 tahun terakhir. Namun untuk siapa karakter ditujukan?

Ada sebuah cerita. Seorang petani setiap hari memakai baju taninya ke kebun. Dipakainya dengan keringat mengucur ke tubuhnya. Pulang ke rumah bajunya dikeringkan.

Esok hari. Datang seseorang dgn penampilan menarik menawari pakaian baru untuk sang petani secara gratis. Harapannya, petani itu jadi modis berjalan setiap hari ke kebunnya. Dipanggillah Petani Keren.

Sementara di kebun. Sang petani tetap memakai pupuk yg sama, bibit yg sama dan cara tanam yg sama. Tidak ada yg berubah kecuali pakaiannya. Di musim panen, hasil yang didapatkan sang petani tetap sama.

Kita ganti kurikulum bagaimanapun kalau yg diganti cuma bajunya memang terlihat keren. Karakter tertulis yg dibangun untuk siswa sangat keren. Di balik itu semua, karakter pendidiknya tetap sama. Mau pakai kurikulum apapun hasilnya akan sama saja.

Dari sejarah kita belajar. Persoalan karakter selalu berbicara gurunya siapa dan bgmana orang tua mendidik anaknya. Tidak ditanya, "eh anakmu hebat pakai kurikulum apa?"

Maka Ujian Kompetensi Guru bukan soal menguji karakter pendidik. Akhirnya menjadi barisan angka-angka yg sunyi secara berurutan.

Ini memang berat. Karakter pendidik kita yang seharusnya dididik.