Kudeta Tanpa Pertumpahan Darah (Strategi Tenang Salahuddin Al-Ayyubi)

Share:

Sebelum memasuki cerita sederhana ini,hampir seluruh cerita tentang Salahuddin Al-Ayyubi yang kita tahu berakhir dengan pertumpahan darah. Sebutlah perang Salib, perang perebutan Al-Aqsho, dll. semuanya berlumuran darah di medan pertempuran. Salahuddin adalah panglima perang, prajurit dengan semangat membara, jadi wajar jika cerita yang kita dengar adalah darah dan darah melulu. Rangkaian cerita yang saya tulis ulang ini berasal dari gabungan shiroh dan cerita dari ustadz yang saya kenal.


(Ilustrasi Salahuddin dalam filmnya)

Baik. Sebelum saya mulai. Ada yang pernah main game Stronghold Crusader di laptopnya? Ada tokoh yang harus dilawan di game tersebut namanya Saladin The Wise yang tidak lain adalah Salahuddin Al-Ayyubi. Jadi game tersebut adalah bentuk frustasi barat terhadap kekalahan pasukan templarnya di perang salib. Jadilah game itu.

Salahuddin Al-Ayyubi (berikutnya saya katakan Salahuddin saja) nama aslinya Yusuf. Rentang ceritanya adalah ujung tombak dari pendahulu-pendahulunya. 

Salahuddin hidup di masa Kekhalifahan Abbasiyah di Aleppo, Suriah walaupun pada masa itu kota besar Abbasiyyah ada di Baghdad, Irak. Jika kita urutkan zamannya kira-kira begini: zaman Rosulullah SAW - zaman sahabat - Umayyah - Abbasiyyah - Turki Utsmani.


(Yang merah itu Abbasiyyah)

Tentunya Konstantinopel masih ada waktu itu, karena nanti di zaman Turki Utsmani dibebaskan oleh Muhammad Al-Fatih.

Kegelisahan tersebut dirasakan Asaduddin Syirkuh (Paman Salahuddin) dan Nuruddin Mahmud Zanki (atasan Salahuddin). Karena Salahuddin saat itu adalah seorang panglima di antara banyak panglima, maka dititipkan kegelisahan umat muslim ke pundak Salahuddin oleh Nuruddin Zanki dan Asaduddin Syirkuh. Salahuddin sangat mengagumi Nuruddin Zanki, Salahuddin adalah pucuk perjalanan dari pendahulu-pendahulunya. Kegelisahan terbesar yang dititipkan untuk Salahuddin adalah Pembebasan Palestina. Karena pada saat itu Palestina ada di tangan Eropa. 



Selain tanah Palestina, sedikit demi sedikit wilayah Mesir pun diambil Eropa. Mesir kian hari kian diambil alih sedikit demi sedikit. Dinasti Ubaidiyyah (Fatimiyyah) yang berkuasa di Mesir selama 200-an tahun juga semakin terpuruk. Kepemimpinan Dinasti Ubaidiyyah pecah kongsi yang akhirnya terbagi dua. Raja yang telah lama memimpin Ubaidiyyah kalah dan dikudeta dan lari ke Aleppo mencari bantuan. Ditemuinya Nuruddin Zanki untuk menjelaskan masalahnya. Nuruddin Zanki mendapat kesempatan yang pas karena Mesir dan Palestina itu berbatasan.

"Ini waktu yang pas, orang ini bukan orang sembarangan. Dia adalah pemimpin di Mesir yang kalah," Kata Nuruddin Zanki.

Permintaan pemimpin Ubaidiyyah yang kalah diterima Nuruddin Zanki. Diberangkatkanlah Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin ke Mesir beserta pasukan untuk mengambil alih Ubaidiyyah.



Singkat cerita pasukan menang mengalahkan pemimpin Ubaidiyyah yang satunya. Dan raja yang ditolong oleh Salahuddin tadi setelah menduduki tahtanya kembali akhirnya berkhianat. Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin sedikit kecewa tapi dipendam. Mereka tahu apa yang harus dilakukan nantinya. Setelah kenaikan raja Ubaidiyyah kembali, beberapa bulan kemudian rakyat melarat, pajak yang tinggi, sementara istana berpesta dengan kekayaannya, akan tetapi di lingkungan masyarakat tidak terjadi pergolakan karena kecintaan masyarakat dengan pemimpinnya dengan tagline "ahlul bayt".

Nuruddin Zanki memerintahkan Asaduddin dan Salahuddin untuk masuk ke strategi ekonomi: membuat masyarakat nyaman dengan menghilangkan himpitan pajak.

Caranya?
Tetap berteman dengan raja Ubaidiyyah ini. Dalam hal aqidah, Salahuddin dan raja Ubaidiyyah ini berbeda meski sama-sama Islam (you know lah maksud saya). Raja Ubaidiyyah merasa nyaman berkat perlindungan Salahuddin beserta pasukannya.  

Salahuddin tidak berpikir membongkar Ubaidiyyah saat itu juga. Tidak menurunkan rajanya karena tahu masyarakat sangat cinta dengan pemimpin itu dengan tagline tadi. Salahuddin dengan tenang memikirkan cara lain yang lebih pantas untuk menurunkan raja tanpa pergolakan rakyat Mesir.

Di lain kesempatan, Nuruddin Zanki di Aleppo memerintahkan Salahuddin mengabarkan para khatib jum'at di Mesir mendoakan Dinasti Abbasiyyah yang ada di Baghdad. Tujuan utamanya, agar diketahui kalau Mesir adalah bagian dari Abbasiyyah.

Tetapi apa jawaban Salahuddin untuk Nuruddin Zanki?
Salahuddin berkata,"Untuk semua perintah, hanya perintah ini yang tidak bisa saya jalankan, Tuan."
Salahuddin masih memikirkan jika memerintahkan pengumuman itu di khutbah-khutbah jum'at maka rakyat Mesir bergolak luar biasa menentang anggapan sebagai bagian dari Abbasiyyah. Karena rakyat Mesir kukuh berada di bawah Ubaidiyyah. Mengumumkan di mimbar masjid tentang Abbasiyyah sama dengan menutup Ubaidiyyah secara langsung. "Bahaya," kata Salahuddin. "Rakyat Mesir dan rajanya akan marah besar," Lanjutnya.


"Saya punya cara yang lebih halus untuk menutup Ubaidiyyah," Kata Salahuddin.

Cara yang dilakukan Salahuddin di luar dugaan istana Ubaidiyyah. Di dalam istana, mereka dekat. Di luar istana, Salahuddin mengatur perubahan ekonomi, militer dan perpajakan. Di dunia militer, Salahuddin menggesar panglima-panglima Ubaidiyyah menjadi panglima yang berpihak ke Salahuddin dengan sangat halus. Di dunia ekonomi, diperbaiki kemiskinan masyarakat menjadi lebih baik dengan menghilangkan pajak. Dan yang lebih penting, Salahuddin memperbaiki bidang keilmuan di Mesir waktu itu. Salahuddin sadar, ada yang salah dengan keilmuan Mesir saat itu dan itulah yang harus diperbaiki.

Salahuddin sadar, kampus terbaik di Mesir yaitu Al-Azhar memiliki pencetak aqidah yang berbeda dengan mazhab-mazhab yang ada di Mesir waktu itu. Pemikiran lawan dengan pemikiran. Pedang lawan dengan pedang. Pemikiran yang dibawa ulama-ulama Ubaidiyyah masuk ke sekolah sekolah sampai kampus. Termasuk semua literatur yang dipakai perpustakaan.

 Akhirnya, pemikiran lawan pemikiran dimulai. Salahuddin memanggil guru-guru terbaik dari 4 mazhab fiqih (Syafi'i, Maliki, Hambali, Hanafi). Di depan guru-guru mazhab, beliau katakan, "Saya akan buatkan sekolah dan kampus untuk semua mazhab tapi satu permintaan saya: hentikan pertikaian mazhab dan ajarkan saja mazhab masing-masing, jangan ada yang mencela mazhab lain," Kata beliau.

Awal perubahan di Mesir oleh Salahuddin meminta diajarkan mazhab di sekolah-sekolah, bukan langsung belajar Qur'an dan Sunnah. Jadilah sekolah dan kampus dengan mazhab masing-masing dan langsung diberikan waqafnya untuk pembiayaan sekolah dan kampus mazhab.

"Silakan bergerak wahai para ulama, ayo ajarkan Islam ini ke anak-anak dan pemuda-pemuda kita dengan mazhab masing-masing," Kata beliau. 

Jadilah kampus-kampus dan sekolah-sekolah besar dengan pendanaan yang luar biasa seperti dalam sejarah waqaf Islam. Setelah kampus-kampus dan sekolah-sekolah banyak peminatnya, Al-Azhar ditutup sementara. Begitupun dengan akses literatur pemikiran tadi sampai pemikiran masyarakat sudah baik.


(wajah al-Azhar)

Hari pun berlalu. Menjelang wafatnya raja Ubaidiyyah. Salahuddin terpukul akan akan kehilangan raja itu. Raja yang sudah biasa ditemaninya akan meninggal. Beliau bersedih, bukan bersyukur atas kematian raja. Masyarakat berdatangan pada Salahuddin untuk mengucapkan belasungkawa atas kepulangan sang saja. Dari keluarga sang raja sebelum meninggal, dititipkanlah Salahuddin amanah untuk menjaga keluarganya. Keluarga raja diminta dibuat nyaman, diminta pindahkan ke tempat yang nyaman. Diberi fasilitas yang negara. Diberikan pengawalan yang baik. Amanah yang dititipkan raja dijalankan oleh Salahuddin.

Setelah itu. Ubaidiyyah tutup. Salahuddin mengawali kepemimpinannya di Mesir dengan Dinasti Al-Ayyubiyah. Al-Azhar dibuka kembali. Dari sinilah, cita-cita pembebasan Palestina dilakukan. Kekuasaan Abbasiyyah terbuka di Mesir.

Salahuddin membebaskan Palestina tahun 1187 di Perang Hittin dan meninggal belum cukup 10 tahun setelah membebaskan Palestina.

Kudeta Mesir tanpa pertumpahan darah. Dimulai dari kesabaran pemimpin, tapi tetap bergerak dalam diamnya. Jika beliau tidak sabar, akan beda rasanya. Hantam sana, hantam sini tanpa urusan yang selesai.

Terima kasih telah membaca.