Dialog Pertemuan Dua Pemilik Cangkir Kopi (3)

Share:
Bagaimana kabar hidupmu.
Seperti hampa empat bulan ini.

Megapa.
Tiada kabar baik yang terdengar.

Bukan engkau selalu dapat yang diinginkan.
Tapi tak selalu aku butuhkan.

Coba renungkan lagi.
Sudah berulang kali kutarik kesimpulan.

Bukankah engkau pemikir yang ditunggu.
Aku lupa meluangkan rasa.

Apakah ini tentangku.
Aku sulit menerjemahkan tentangmu.

Bagaimana dengan membaca rasaku.
Aku tak begitu paham.

Mana mungkin.
Engkau tak tertebak.

Aku sangat jelas.
Penglihatanku selalu kabur.

Ada yang menghalangi pandanganmu.
Engkau benar. Tak kutolak jawabanmu.

Engkau tak pernah tajam menatapku.
Sebab bunga mekar cepat layu.

Apakah aku akan layu.
Tidak. Tetapi banyak mekar yang sama.

Bagaimana engkau akan tahu itu aku.
Sebab mekar tak bermakna harum.

Akukah harum yang engkau maksud.
Haruskah kukatakan.

Harus.
Minumlah isi cangkirmu. Nanti dingin.

Apa jawabanmu.
Mekar. Harum. Lembut. Pemalu.

Siapa itu.
Bulan merah malam kemarin.

Usahlah ceritakan yang munculnya 150 tahun sekali.
Itu kamu.

Aku hanya menghilang 15 bulan.
hanya beda angka terakhir.

Aku serius.
Iya itu dirimu. Mekar. Harum. Lembut. Pemalu.

Aku tak pernah malu.
Semua yang mekar tak pernah mengakuinya.

(Hening)

Aku akui.
Begitulah aku mengenali mekarmu. Perbedaan harumnya. Karena malu menyertai.

Aku permisi.
Jangan menunduk. Engkau tambah mekar dan harum.



puisi cinta,puisi pahlawan,puisi anak,puisi tentang guru,puisi tentang ibu,puisi adalah,puisi roman picisan,puisi guruku,puisi guru,puisi untuk ibu,puisi,puisi ibu,puisi ayah,puisi alam,puisi alam lirik,puisi aadc,puisi ayah dan ibu