Manusia Bugis: Tradisi Sastra dan Kepenulisan

Share:



Kurang lebih --mohon maaf-- saya kurang setuju jika dikatakan bahwa orang bugis tidak suka berkata-kata manis dan membangkitkan semangat oleh sebab orang bugis melakukannya melalui perbuatannya.

Hal dasar yang harus dipahami. Orang bugis memiliki tradisi sastra dan tradisi menulis. Ini dibuktikan dengan sajak-sajak menghadap raja atau sajak-sajak ketika anak gadis hendak dilamar oleh keluarga sang lelaki. Belum lagi naskah epik I Lagaligo yang disebut-sebut sebagai naskah kedua terpanjang di dunia mengalahkan Mahabrata (yang sering kalian lihat di tivi-tivi).

Memang sajak-sajak kita agak berbeda dengan sajak melayu yang mendayu. Karena sajak-sajak bugis lebih ke arah dialogis.

Seperti banyak kerajaan. Setiap kerajaan memiliki pendekatan memperluas wilayahnya. Salah satunya wilayah dialogis. Itulah mungkin sebabnya kerajaan dulu mengembangkan wilayahnya dengan 3 pendekatan, yang sering kita dengar dengan pendekatan "3 ujung".

Pertama, pendekatan ujung badik (perang). Kedua, pendekatan ujung lidah (dialog). Ketiga, pendekatan --maaf--ujung kemaluan (perkawinan antar kerajaan).
.
.
--Selamat berlibur.
Foto: tari empat payung oleh Sanggar Seni Colliq Pujie.