Perahu-Perahu Ketinting: Tradisi di atas Laut sekelas MotoGP

Share:
Tidak ada yang istimewa saat Agustus tiba selain peringatan kemerdekaan yang terus diulang. Apakah kita betul merdeka atas nama bangsa? Tak apalah, daripada masih terjajah secara fisik.


Sekedar melepas rindu ke kampung halaman. Melepas beratnya mata menatap layar yang saat ini menjadi rutinitas. Atau, juga karena dering telepon bapak tempo hari. Dan juga, kabar tomat dan bunga yang saya tanam mulai tumbuh dengan baik.



Sejak kecil hanya diceritakan lomba perahu seperti kabar di televisi. 5 PK, 9 PK dan 13 PK hanya cerita soal kelas kecepatan perahu-perahu itu.



Ini hari yang tepat. Perahu-perahu nelayan yang sesungguhnya berlomba.

Bukan cerita lagi.


Tradisi laut ini masih ada.







Dan juga tentang perahu-perahu baru yang ikut berlomba.

Kabar tersiar ke pelosok desa. Seperti ikan berkabar untuk nelayan.




Begitupun perahu lama dengan mesin baru. Yang malamnya menangkap ikan, pagi hari ikut balapan. Yang malamnya menjerat ikan-ikan sunu, pagi hari bau ikan.





Bukan rahasia lagi. Pertandingan adalah bentuk rekreasi masyarakat desa. Dari seberang pulau pun datang.





Seperti mereka yang senang memandang. Tidak ada cerita koruptor di sini.



Gadis dan perempuan desa keluar rumah. dengan pakaian terbaik. Padahal hanya ke pantai. 






Motor diparkir tak peduli panas. 




Merah putih berkibar dipucuk-pucuk tombak. Kurang nasionalis apa mereka? Setahun pun tak pernah kulihat merah putih di dada dan kepalamu.





Pertandingan dimulai. 
Dan pertama kali kusaksikan sendiri.