Tradisi di tengah modernisme. Gerabah; antara nilai jual dan keberlangsungan hidup.

Share:


Pernahkah kawan sekalian memakan sajian yang wadah masak atau gorengnya menggunakan tanah liat?

Bagaimana rasanya?
Tentu jawabannya ada pada kita yang menikmati sajiannya.

Di tengah alat-alat komunikasi yang serba canggih, mesin hitung terkomputasi hingga perubahan cara memasak dari tradisi ke modern, ada sekelompok orang tua yang masih menekuni persoalan benda pakai dari tanah liat yang dibakar (gerabah).

Tak jarang kita temukan di restoran mewah mereka justru menggunakan wadah tanah liat. Ini menarik sebagai bagian dari budaya nusantara.

Di tempat yang saya datangi, para tetua ini bisa membuat lima sampai sepuluh gerabah setiap harinya. Mulai dari mentahan yang belum dibakar (gambar di atas) sampai gerabah siap pakai.

Di kirim ke seluruh pelosok nusantara. Berbagai jenis, ukuran dan warnanya kebanyakan sesuai pesanan.

Prihatinnya, mereka adalah tetua yang seperti kehilangan generasi. Anak-anak dan pemuda seperti kehilangan rasa kenusantaraan. Padahal nasionalisme dan kebudayaan adalah dua hal yang menjunjung citra budaya kita secara global. Nasionalisme tidak melulu soal sepak bola, tidak juga sekedar peringatan kebangsaan setiap senin dan setiap tahunnya. Kemana pemuda kita yang selalu berbangga dengan kenusantaraannya?

Mungkin jawabannya adalah dia sedang memegang gadget sambil mengetik kata-kata ini atau pemuda yang lain itu juga sedang asyik membaca ulasan ini.

Tulisan ini adalah pandangan mengenai salah satu warisan tradisi kita terhadap gejolak modernisme.