Posisi Seni dalam Filsafat Yunani Awal

Share:


Dahulu, di sebuah kota bernama Athena sekitar tahun 400 SM lahir seorang anak bernama Plato.

Lahir dari keluarga biasa dan berkembang karena pemikirannya tentang dunia yang lain. Terutama filsafat-filsafatnya tentang negara, meskipun akhirnya pemikiran itu hampir bersifat sophisme (ketiadaan materi).

Pemikiran Plato tentang Atlantis menjadi booming beberapa tahun terakhir. Terutama setelah Prof. Arysio Santos dari Brazil mengemukakan hal mengejutkan dalam bukunya Atlantis: The Lost Continent Finally Found bahwa Atlantis adalah Asia dan Indonesia adalah tempat lahir peradaban dunia setelah dipelajari berdasarkan catatan Plato yaitu timaeus dan critias.

Entahlah. Bagaimanapun, kita membangun tradisi membaca dari buku setebal hampir 700 halaman itu.

Baik. Dalam filsafat Yunani awal, seni dalam pandangan filsuf adalah sebuah tiruan. Seperti yang dikatakan Plato. Seni adalah tiruan. Tiruan dari alam. Tiruan dari keadaan.

Tidak heran jika artefak-artefak budaya yang ditemukan di Yunani berupa replika keadaan di sana pada tahun 400-an SM itu.

Ketika perintah raja turun, posisi seniman sebagai tukang (persis seperti zaman sekarang). Tukang akan membuat benda seni (artefak budaya) sesuai perintah sang raja ataupun para pendamping raja.

Namun bisa kita lihat estetika yang muncul dari sana. Mereka seperti menolak kerja yang dianggap meniru. Melainkan mencipta. Mencipta, merasa dan mengarsa (biasanya disebut tridaya).

Seniman memiliki hak untuk mencipta (memikirkan bentuk), seniman memiliki hak untuk merasa (saya sulit menjelaskan ttg rasa, ini pribadi-pribadi kita) dan seniman memiliki hak untuk mengarsa (niat yang tulus, bukan berdasarkan tekanan).

Jadi seni nantinya akan masuk kepada pemberontakan Yunani akhir. Mereka menyebutnya politik pencitraan budaya.