Seni dan Infinitum

Share:




Dulu saya sering mengulangi buku Infinitum karya Kak Ahyar.

Atas dasar mengulangi, bagi saya Infinitum memang hukum perulangan; sebanyak apapun engkau mengulangi, engkau hanya akan bertemu pada takdir yang sama.

Baik Infinitumnya Kak Ahyar ataupun Ad Infinitum yang ditulis Nitsche, secara sadar kita membuat kemungkinan bahwa yang pernah terjadi akan terulang lagi jika seluruh kombinasi secara acak telah terisi.

Entah kombinasi itu struktur tubuh kita, aktivitas kita, perjumpaan ataupun perkataan.

Namun, apakah perualangan itu abadi (ad infinitum)? Ya. Bila semua kombinasi bergerak pada siklus semestinya.

Tidak. Bila terjadi kesalahan kombinasi.

Pada akhirnya Nitsche memberikan pilihan lingkungan untuk hidup yaitu pada lingkungan estetik. Baik berulang maupun tidak, hidup dipandang untuk memenuhi unsur keindahan.

Dan, seni.
Adalah hasil pertemuan samudera rasa dan pikir manusia untuk memenangkan hidup.