Monalisa Kedua; Sebuah catatan pelengkap malam

Share:



Mengapa engkau hadir seperti Monalisa dengan senyumannya yang tertahan. Hendak bahagia karena sesuatu, di saat yang bersamaan sedang tak ingin bahagia.

Mengapa tajam matamu selalu tampakkan curiga?
Ataukah mata seperti itu adalah ucapan engkau tahu banyak hal.

Mungkinkah para psikolog pun akan bingung tafsirkan mata dan senyummu?

Saya kurang yakin. Namun masa Renaissans abad ke-16 sejenak melintas pada zaman posmodernisme ini.


--di luar sana, banyak Monalisa kedua yang tidak kita sadari.