Modernisasi Seni (2)

Share:

Saya lanjut...

Kebebasan berekspresi muncul diiringi dengan kebebasan orang lain mengemukakan dirinya. 
Kebutuhan industri semakin besar seiring dengan kebutuhan akan seniman intelektual (lihat postingan tentang seniman murni dan terapan). Begitulah industri. Era modern. Manusia dengan perasaannya. 
Semua karena pertanyaan; bagaimana jika? Begitulah pertanyaan dikombinasi dengan perasaan.

Tak heran jika perasaan-perasaan itu menggiring manusia untuk menciptakan sesuatu sebagai pernyataan akan dirinya; Inilah aku, inilah ekspresiku, aku bukan seperti yang lainnya. Kira-kira seperti itu.

Untuk menampung kebebasan ekspresinya mereka yang modern dan cenderung kreatif, lahirlah sekolah desain sebagai kebutuhan industri.

Berkembang.

Kemudian lahirlah kapitalisasi seni (keserakahan karena seni)
bersamaan dengan lahirnya kenikmatan akan seni modern